Sabar progressif

2_45.gifJadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu, (QS. 2:45)

Permintaan tolong adalah representasi kedekatan vertikal makhluk dan Sang Khaliq. Dan Tuhanmu menjamin akan mengabulkan setiap permohonan hamba-NYA.

Syarat dan medianya adalah SABAR dan SHOLAT

Sabar adalah konsistensi sikap, langkah, pemikiran, harapan pada suatu tujuan pencapaian. Ia juga berupa komitmen untuk menjalankan setiap tindakan, memenuhi segala persyaratan, untuk pencapaian tujuan tsb.

Sabar bersifat “progressif, proaktif”, bukan “nrimo”, sikap pasrah, pasif menerima kondisi, situasi, tanpa berupaya mengubahnya. Orang sabar terus berusaha, meskipun pada langkah kesekian kalinya, yang terakhir, belum memperoleh apa yang diharapkan. Seorang Thomas Alfa Edison, sejatinya adalah orang sabar, karena ia berhasil mengalahkan rasa bosan dan mudah menyerahnya setelah ratusan kegagalan dalam melakukan eksperimen listriknya. Demikian juga, para saintis lainnya yang harum namanya dalam dunia perkembangan sains dan teknologi.

Rasulullah saw dan para Nabi juga adalah contoh yang sangat tepat untuk orang-orang yang sabar. Konsisten menyebarkan risalah, apapun reaksi umatnya.

Allah “memberi” melalui cara yang makhluk-NYA memahaminya.

Kita, makhluk-NYA, memahami bahwa pencapaian tujuan membutuhkan konsistensi langkah dan tindakan. Dan its common sense, jika DIA menolongmu setelah kamu bersikap SABAR.

SHOLAT arti harfiahnya berdoa, memohon, hanya kepada-NYA. Arti legal/ hukum nya adalah sholat yang merupakan salah satu rukun islam. Itu esensi makna dan eksistensi tindakan yang saling terhubung.

Memintalah kepada-NYA di dalam sholat, dan dengan sering melakukan sholat; wajib dan sunnah. Sholat lah dengan benar dengan memahami kaifiyahnya dan dengan memahami tujuannya. Sholat yang benar terindikasi dari efek nya.

Sabar adalah dimensi hubungan horisontal. dan Sholat adalah dimensi hubungan vertikal.

Membangun kualitas 2 hubungan di atas bukan hal mudah; sangat sulit malahan. Kuncinya ada pada kualitas kekhusyu’an kita. Khusyu adalah konsentrasi pada niat awal, tata cara (kaifiyyah), tak tergoyah oleh pengaruh dan gangguan eksternal. Khusyu’ bukan mengabaikan lingkungan luar, sebaliknya tetap sadar, sensitif namun tak tergoda.

Dan khusyu’ itulah yang membawa kesabaran dan shalat kita menghasilkan pengaruh positif luar biasa kepada diri dan orang lain.  

There are no comments on this post.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: