Kemudahan di balik (sesudah?) kesulitan

94_5.gif 

Fa inna ma’al ‘usri yusron. Inna ma’al usri yusron

Maka sesungguhnya, setelah (beserta, di balik) kesulitan itu, ada (setelah mempelajarinya) kemudahan. Sesungguhnya, setelah (beserta, di balik) kesulitan itu, ada (setelah mempelajarinya) kemudahan.

Subhaanallah, ada ayat yang begitu intens menyerukan titah-NYA, seperti ayat di atas

Diawali dengan fa (=maka), kemudian inna (sesungguhnya). Lalu diulangnya, kalimat yang sama persis.

Adakah ayat lain yang menandaskan begitu kuat, sekuat ayat ini?

Sepintas, saya sering mendengar orang memaknai “setelah kesulitan ada kemudahan”. Oh, ternyata terjemahan dari Departemen Agama juga demikian.

Jika kita memaknai dan meyakini “as it is”, maka tidak ada orang yang selalu kesulitan; tidak ada orang miskin, papa, tak berdaya. Karena, orang selalu, pasti akan dimudahkan, setelah mengalami kesulitan.

Tetapi, lihatlah sekitar. Ada banyak sekali orang susah. Dan artinya, mereka tidak berhasil merasakan kemudahan; melulu kesulitan yang mereka alami. Tidak pernah ada kemudahan, setelah kesulian mereka.

Lalu, ayat itu salah? Sama sekali salah. Yang salah pemahaman kita atas ayat tadi.

Apakah kita akan memperoleh kemudahan secara gratis?

Tidak. Sunnatullah tidak berlaku seperti itu. Lihatlah baik-baik ayat tadi.

Ayat tadi tidak memakai kata “wa” (dan) atau “tsumma” (kemudian), tetapi “ma’a” (beserta, di balik).

Pernah tahu konsep “gelas setengah kosong setengah isi”? Ini juga mirip.

Anda, kita bisa melihat kesulitan dan kegagalan sebagai alat untuk mempelajari hal-hal yang menuntun kita memperoleh kemudahan, keberhasilan, dan kesuksesan. Itu arti dari “di balik kesulitan ada kemudahan”.

Anda bisa belajar “mengapa Anda ditolak” dari peristiwa “Anda ditolak”. Itu bahkan jauh lebih mengakar, berasa, intens, dan tak gampang dilupakan daripada Anda belajar dari mengapa “Anda diterima”.

“Mengapa Anda ditolak” bahkan mungkin lebih universal daripada “mengapa Anda berhasil”. Berlaku lebih lama, lebih luas, lebih mendasar.

Anda kemudian bisa memperoleh kemudahan, setelah mempelajari dan mengaplikasikan hasil belajar itu di masa datang. Dan, itu juga belum tentu sekali jadi. Mungkin, Anda belajar, namun tidak sempurna. Anda perlu belajar lebih dari sekali. Setiap Anda belajar, itu merupakan proses penyempurnaan. Makin banyak penyempurnaan yang Anda lakukan, makin signifikan juga hasil belajarnya.

Jadi wajar, jika kita sering merasakan kesulitan yang mirip lebih dari sekali. Karena, kita membutuhkan lebih dari sekali mempelajari hal-hal yang mirip. Dan ekstrimnya, tak perlu heran, jika Anda mengalami kesulitan selamanya, jika Anda ternyata tak sanggup belajar dari kesulitan.

Sekarang bayangkan, berapa potensi yang Anda miliki untuk meraih kemudahan, seandainya Anda memiliki kesanggupan untuk belajar dari setiap kesulitan yang Anda alami.

There are no comments on this post.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: