Istiqomah, konsistensi dan komitmen puncak

46_131.gif 

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: Rabb kami ialah Allah, kemudian mereka tetap istiqamah maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita. (QS. 46:13)

Dalam ayat yang lain,

Alladziena aamanuu tsummastaqoomuu tatanazzalu alaihimul malaaikatu allaa tkhoofuu walaa tahzanuu

Mereka yang beriman dan kemudian beristiqomah (dalam imannya), akan datang kepada mereka para malaikat yang berujar “janganlah engkau khawatir dan bersedih”.

Istiqomah adalah masdar dari istaqoma, yang merupakan kata bentukan dari qooma

Qooma artinya berdiri, aqooma berarti mendirikan, sedangkan istaqoma berarti upaya terus menerus untuk mendirikan. Ada tingkatan yang terasa menaik dari qooma ke istaqoma.

Ketika Anda melaksanakan sholat dluhur, itu baru berarti qooma

Jika kemudian Anda melakukan segala usaha yang diperlukan untuk melakukan sholat, membantu orang lain agar bisa melakukan sholat, belajar dari segala sumber agar sholat Anda benar, maka itu berarti aqooma.

Namun, jika karena suatu keadaan sulit dan menyulitkan, Anda menjadi lemah dan tidak mendirikan sholat, maka Anda tidak beristiqomah.

Dalam islam, melakukan yang “kecil” secara teratur dan terus menerus lebih bernilai daripada melakukan yang besar tapi jarang dan tak teratur. Umumnya, suatu perbuatan baru berefek positif, apabila dilakukan secara teratur dan berkesinambungan.

Kata aamanuu biasanya disandingkan dengan wa’amilusshoolihaati

Beriman dan beramal baik

Amal adalah perwujudan iman

Kualitas iman ditentukan oleh kualitas amal. Kualitas amal per perbuatan ditentukan oleh niat dan kaifiyat ketika amal dilaksanakan. Tetapi kualitas amal seseorang, sesungguhnya ditentukan oleh seberapa besar imbas, pengaruh, dan daya ubah amal yang dijalankan terhadap nilai manfaat orang yang menjalankan terhadap diri dan lingkungan/ orang lain.

Maka ketika si Amin kelihatan rajin menjalankan sholat dan ia tetap menjadi orang paling malas bekerja, berat menolong orang lain, lebih suka menengadah daripada memberi, gemar melakukan yang sia-sia, maka kualitas amalnya rendah..

Kapan efek dari amal terasa?

Ketika ia qooma, aqooma, dan kemudian istaqoma. Baru setelah itu, ia memperoleh manfaat sebesar-besarnya dari amal.

Sampai-sampai para malaikat datang mendukung “jangan engkau khawatir dan bersedih”.

Sungguh, ini inti dari manajemen pencapaian. Kontinuitas. Konsistensi bersikap dan bertindak. Memberikan komitmen sepenuhnya, agar kontinuitas tetap terjaga.

Lebih-lebih, jika disertai perbaikan dari waktu ke waktu; continual improvement.

Satu Tanggapan

  1. bagus banget akh.. semoga makin dimudahkan Allah dalam menulis…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: