Khusyu dan keberhasilan

September 26, 2008 - Leave a Response

Was ta’ienuu bisshabri wassholaati, wainnahaa lakabiiratun illaa ‘alal khoosyi’ien

Jadikanlah sabar dan sholat sebagai penolongmu, sesungguhnya sholat itu (terasa) berat-memberatkan, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’

Ada dua kemampuan yang penting dimiliki oleh seorang profesional dalam berkarir. Yang pertama kemampuan atau pemahaman kontekstual (CONTEXT). Yang kedua pemahaman materi, kandungan, atau CONTENT.

Orang belajar mendalami Teknik Mesin di sekolah-sekolah bagus, agar ia faham segala hal perilaku mesin yang dipakai di dunia industri. Dengan faham, ia bisa bekerja dengan baik, ikut berkontribusi dalam proses produksi. Kualitas produk bisa diterima pasar, pada akhirnya. Ini kemampuan CONTENT

Ia kemudian perlu tahu hubungan lainnya. Ia perlu tahu hubungan proses produksi dengan pemasaran, proses produksi dengan sumber daya manusia, proses produksi dengan pergudangan, proses produksi dengan lingkungan hidup. Dengan faham hubungan, ia bisa memikirkan pertimbangan lain yang lebih lengkap dan bermanfaat bagi komunitas lebih luas. Kemampuan ini lebih terkait CONTEXT

Professional yang berhasil dicirikan oleh ketajamannya atas CONTENT dan keluasan wawasannya atas CONTEXT. Bagaimana ini bisa dicapai?

Ada satu kata : KHUSYU’

Khusyu adalah konsentrasi, mencurahkan perhatian lebih pada sesuatu, berusaha untuk menghindari segala sesuatu yang memalingkan fiiran darinya. Khusyu berarti sadar, tidak hanyut, tidak tenggelam dalam alam yang lain. Khusyu berarti tetap berada di kekinian dan kesinian, tetap memahami lingkungan sekitar, tetap kontekstual.

 

Halangi olehmu orang lain yang lewat di depanmu ketika Anda sedang menjalankan sholat. Bunuh olehmu ular, kalajengking, atau hewan lain yang berbahaya, yang dapat menggigitmu ketika Anda sedang sholat. Anda bukan sedang “bersemedi” yang tak peduli bakal ada binatang beracun yang bisa menggigitmu. Mencegah orang lain yang bakal menghalangi sholat, atau membunuh binatang beracun yang hendak menggigitmu tidak mengurangi kekhusyu’an. Membuka, tidak memejamkan mata, ketika sholat juga tidak mengurangi kekhusyu’an sholatmu.

 

Tapi khusyu adalah melaksanakan segala upaya untuk menghadapkan dirimu, jiwa dan ragamu, pikiran dan perasaanmu, segala sumber daya yang kamu miliki, untuk dikerahkan sekuatnya bagi hubungan komunikasi dengan Sang Khalik, ALLAH swt. Khusyu ada pada proses, bukan pada hasil, seperti halnya kebahagiaan, kesuksesan, keimanan, ketakwaan, keihsanan, dll. Maka menjadi lebih khusyu dari waktu ke waktu, atau menjadi tetap khusyu dari waktu ke waktu adalah lebih penting daripada menjadi khusyu’ itu sendiri.

 

Menjadi khusyu’ tidak atau tidak boleh menghilangkan kesadaran akan diri dan lingkungan. Karena sama sekali kita tidak bisa memahami TUHAN yang jiwa-raga ini dihadapkan, kecuali melalui kesadaran akan diri dan lingkungan kita, yang adalah makhluk-NYA. Content pemahaman akan TUHAN hanya dapat difahami melalui pemahaman CONTEXT hubungan komunikasi dan hubungan penciptaan TUHAN atas ciptaan-NYA

Sabar progressif

Februari 21, 2008 - Leave a Response
2_45.gifJadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu, (QS. 2:45)

Permintaan tolong adalah representasi kedekatan vertikal makhluk dan Sang Khaliq. Dan Tuhanmu menjamin akan mengabulkan setiap permohonan hamba-NYA.

Syarat dan medianya adalah SABAR dan SHOLAT

Sabar adalah konsistensi sikap, langkah, pemikiran, harapan pada suatu tujuan pencapaian. Ia juga berupa komitmen untuk menjalankan setiap tindakan, memenuhi segala persyaratan, untuk pencapaian tujuan tsb.

Sabar bersifat “progressif, proaktif”, bukan “nrimo”, sikap pasrah, pasif menerima kondisi, situasi, tanpa berupaya mengubahnya. Orang sabar terus berusaha, meskipun pada langkah kesekian kalinya, yang terakhir, belum memperoleh apa yang diharapkan. Seorang Thomas Alfa Edison, sejatinya adalah orang sabar, karena ia berhasil mengalahkan rasa bosan dan mudah menyerahnya setelah ratusan kegagalan dalam melakukan eksperimen listriknya. Demikian juga, para saintis lainnya yang harum namanya dalam dunia perkembangan sains dan teknologi.

Rasulullah saw dan para Nabi juga adalah contoh yang sangat tepat untuk orang-orang yang sabar. Konsisten menyebarkan risalah, apapun reaksi umatnya.

Allah “memberi” melalui cara yang makhluk-NYA memahaminya.

Kita, makhluk-NYA, memahami bahwa pencapaian tujuan membutuhkan konsistensi langkah dan tindakan. Dan its common sense, jika DIA menolongmu setelah kamu bersikap SABAR.

SHOLAT arti harfiahnya berdoa, memohon, hanya kepada-NYA. Arti legal/ hukum nya adalah sholat yang merupakan salah satu rukun islam. Itu esensi makna dan eksistensi tindakan yang saling terhubung.

Memintalah kepada-NYA di dalam sholat, dan dengan sering melakukan sholat; wajib dan sunnah. Sholat lah dengan benar dengan memahami kaifiyahnya dan dengan memahami tujuannya. Sholat yang benar terindikasi dari efek nya.

Sabar adalah dimensi hubungan horisontal. dan Sholat adalah dimensi hubungan vertikal.

Membangun kualitas 2 hubungan di atas bukan hal mudah; sangat sulit malahan. Kuncinya ada pada kualitas kekhusyu’an kita. Khusyu adalah konsentrasi pada niat awal, tata cara (kaifiyyah), tak tergoyah oleh pengaruh dan gangguan eksternal. Khusyu’ bukan mengabaikan lingkungan luar, sebaliknya tetap sadar, sensitif namun tak tergoda.

Dan khusyu’ itulah yang membawa kesabaran dan shalat kita menghasilkan pengaruh positif luar biasa kepada diri dan orang lain.  

Istiqomah, konsistensi dan komitmen puncak

Februari 21, 2008 - Satu Tanggapan

46_131.gif 

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: Rabb kami ialah Allah, kemudian mereka tetap istiqamah maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita. (QS. 46:13)

Dalam ayat yang lain,

Alladziena aamanuu tsummastaqoomuu tatanazzalu alaihimul malaaikatu allaa tkhoofuu walaa tahzanuu

Mereka yang beriman dan kemudian beristiqomah (dalam imannya), akan datang kepada mereka para malaikat yang berujar “janganlah engkau khawatir dan bersedih”.

Istiqomah adalah masdar dari istaqoma, yang merupakan kata bentukan dari qooma

Qooma artinya berdiri, aqooma berarti mendirikan, sedangkan istaqoma berarti upaya terus menerus untuk mendirikan. Ada tingkatan yang terasa menaik dari qooma ke istaqoma.

Ketika Anda melaksanakan sholat dluhur, itu baru berarti qooma

Jika kemudian Anda melakukan segala usaha yang diperlukan untuk melakukan sholat, membantu orang lain agar bisa melakukan sholat, belajar dari segala sumber agar sholat Anda benar, maka itu berarti aqooma.

Namun, jika karena suatu keadaan sulit dan menyulitkan, Anda menjadi lemah dan tidak mendirikan sholat, maka Anda tidak beristiqomah.

Dalam islam, melakukan yang “kecil” secara teratur dan terus menerus lebih bernilai daripada melakukan yang besar tapi jarang dan tak teratur. Umumnya, suatu perbuatan baru berefek positif, apabila dilakukan secara teratur dan berkesinambungan.

Kata aamanuu biasanya disandingkan dengan wa’amilusshoolihaati

Beriman dan beramal baik

Amal adalah perwujudan iman

Kualitas iman ditentukan oleh kualitas amal. Kualitas amal per perbuatan ditentukan oleh niat dan kaifiyat ketika amal dilaksanakan. Tetapi kualitas amal seseorang, sesungguhnya ditentukan oleh seberapa besar imbas, pengaruh, dan daya ubah amal yang dijalankan terhadap nilai manfaat orang yang menjalankan terhadap diri dan lingkungan/ orang lain.

Maka ketika si Amin kelihatan rajin menjalankan sholat dan ia tetap menjadi orang paling malas bekerja, berat menolong orang lain, lebih suka menengadah daripada memberi, gemar melakukan yang sia-sia, maka kualitas amalnya rendah..

Kapan efek dari amal terasa?

Ketika ia qooma, aqooma, dan kemudian istaqoma. Baru setelah itu, ia memperoleh manfaat sebesar-besarnya dari amal.

Sampai-sampai para malaikat datang mendukung “jangan engkau khawatir dan bersedih”.

Sungguh, ini inti dari manajemen pencapaian. Kontinuitas. Konsistensi bersikap dan bertindak. Memberikan komitmen sepenuhnya, agar kontinuitas tetap terjaga.

Lebih-lebih, jika disertai perbaikan dari waktu ke waktu; continual improvement.

Kemudahan di balik (sesudah?) kesulitan

Februari 21, 2008 - Leave a Response

94_5.gif 

Fa inna ma’al ‘usri yusron. Inna ma’al usri yusron

Maka sesungguhnya, setelah (beserta, di balik) kesulitan itu, ada (setelah mempelajarinya) kemudahan. Sesungguhnya, setelah (beserta, di balik) kesulitan itu, ada (setelah mempelajarinya) kemudahan.

Subhaanallah, ada ayat yang begitu intens menyerukan titah-NYA, seperti ayat di atas

Diawali dengan fa (=maka), kemudian inna (sesungguhnya). Lalu diulangnya, kalimat yang sama persis.

Adakah ayat lain yang menandaskan begitu kuat, sekuat ayat ini?

Sepintas, saya sering mendengar orang memaknai “setelah kesulitan ada kemudahan”. Oh, ternyata terjemahan dari Departemen Agama juga demikian.

Jika kita memaknai dan meyakini “as it is”, maka tidak ada orang yang selalu kesulitan; tidak ada orang miskin, papa, tak berdaya. Karena, orang selalu, pasti akan dimudahkan, setelah mengalami kesulitan.

Tetapi, lihatlah sekitar. Ada banyak sekali orang susah. Dan artinya, mereka tidak berhasil merasakan kemudahan; melulu kesulitan yang mereka alami. Tidak pernah ada kemudahan, setelah kesulian mereka.

Lalu, ayat itu salah? Sama sekali salah. Yang salah pemahaman kita atas ayat tadi.

Apakah kita akan memperoleh kemudahan secara gratis?

Tidak. Sunnatullah tidak berlaku seperti itu. Lihatlah baik-baik ayat tadi.

Ayat tadi tidak memakai kata “wa” (dan) atau “tsumma” (kemudian), tetapi “ma’a” (beserta, di balik).

Pernah tahu konsep “gelas setengah kosong setengah isi”? Ini juga mirip.

Anda, kita bisa melihat kesulitan dan kegagalan sebagai alat untuk mempelajari hal-hal yang menuntun kita memperoleh kemudahan, keberhasilan, dan kesuksesan. Itu arti dari “di balik kesulitan ada kemudahan”.

Anda bisa belajar “mengapa Anda ditolak” dari peristiwa “Anda ditolak”. Itu bahkan jauh lebih mengakar, berasa, intens, dan tak gampang dilupakan daripada Anda belajar dari mengapa “Anda diterima”.

“Mengapa Anda ditolak” bahkan mungkin lebih universal daripada “mengapa Anda berhasil”. Berlaku lebih lama, lebih luas, lebih mendasar.

Anda kemudian bisa memperoleh kemudahan, setelah mempelajari dan mengaplikasikan hasil belajar itu di masa datang. Dan, itu juga belum tentu sekali jadi. Mungkin, Anda belajar, namun tidak sempurna. Anda perlu belajar lebih dari sekali. Setiap Anda belajar, itu merupakan proses penyempurnaan. Makin banyak penyempurnaan yang Anda lakukan, makin signifikan juga hasil belajarnya.

Jadi wajar, jika kita sering merasakan kesulitan yang mirip lebih dari sekali. Karena, kita membutuhkan lebih dari sekali mempelajari hal-hal yang mirip. Dan ekstrimnya, tak perlu heran, jika Anda mengalami kesulitan selamanya, jika Anda ternyata tak sanggup belajar dari kesulitan.

Sekarang bayangkan, berapa potensi yang Anda miliki untuk meraih kemudahan, seandainya Anda memiliki kesanggupan untuk belajar dari setiap kesulitan yang Anda alami.

Kesalihan Sosial

Februari 21, 2008 - Leave a Response

107_11.gif

Aroaitalladzie yukaddzibu biddien

Fadzaalikaladzie yadu’ul yatiem, wa laa yahuddlu ‘alaa tho’aamil miskien. Fa wailullil mushollien. Alladziena hum ‘an sholaatihim saahun. Allaziena hum yuroo’uuna wayamna’uunal maa’uun.

Saya tersentak.

Ada sejumlah pertanyaan.

Cap “mendustakan” agama bukanlah main-main. Sangat serius. Mendustakan seperti menganggap DIA tidak tahu, padahal DIA maha tahu.

Dan cap itu,

bukan melekat pada orang yang melakukan banyak maksiat, meninggalkan haji, puasa, sholat

bukan melekat pada orang yang jauh dari masjid, jarang berdoa dan berdzikir

Cap itu secara telak menghantam orang-orang a sosial; tak peduli pada sekitar, anak yatim, orang miskin, tak berkemampuan

Kenapa kemudian muncul pernyataan lanjutan “celakalah orang-orang yang melakukan sholat, yang sholat nya lalai, yang berbuat riyaa’ dan menolak, menghardik, mengusir orang yang meminta.

Sholat adalah wakil dari ibadah ritual, vertikal arahnya, pribadi sifatnya. Ia jadi sarana “chating” antara makhluk dan Sang Khaliq. Kenapa pelaku sholat bisa celaka? Kenapa bisa lalai? Apa maksudnya lalai?

Jika kita mengamati segala bentuk peribadatan, yang DIA perintahkan melalui hadits kekasih-NYA, maka akan nampak benar bahwa ibadat ritual “tidak pernah” lepas dari kerja/ amal sosial.

Ditandaskan dari ayat-ayat tadi, sholat yang dilalaikan hakikatnya, tidak dapat mencegah kita dari sifat a-sosial, dan itu bertentangan dengan misi utama islam, mensejahterakan; memberi rahmat sekalian alam. dan wajar, jika pelaku sholat tetap a-sosial, maka ia mendustakan misi utama islam.

Niat kita mensucikan harta berkaitan erat dengan niat kita membahagiakan orang lain, melalui zkat, sedekah, dan infak kita

Niat kita untuk menggapai tingkat tertinggi ketakwaan kita, berbarengan dengan upaya kita mengasah kepekaan atas penderitaan dan rasa lapar orang sekitar, melalui puasa kita

Kesaksian kita akan keesaan-NYA, berbarengan dengan keberanian, kemandirian, dan keteguhan sikap kita untuk berlaku adil menurut hukum-NYA, mellaui ucapan syahadat kita

Jadi, siap berani bilang

bahwa islam kita urusan akhirat kita?

bahwa religiusitas kita berseberangan dengan aktifitas sosial kita?

bahwa tawadlu kita berseberangan dengan motivasi kita bersikap progresif?

bahwa kita menjadi biarawan dan rahib yang hidup terasing dari komunitas?

Jangan berani-berani mengatakan itu,

karena berislam adalah mengembangkan sikap dan perilaku yang membawa manfaat sosial setinggi-tingginya.

karena sebaik-baik mukmin adalah yang paling bermanfaat bagi lingkungan.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.